Ini dia StartUp di Bidang Pertanian yang patut diacungi jempol

Ini dia StartUp di Bidang Pertanian yang patut diacungi jempol
(StartUp, picture by pixabay)

Ini dia StartUp di Bidang Pertanian yang patut diacungi jempol

(Agriculture, picture by pixabay)

1. Pertanian di Indonesia kian hari harus mengikuti perkembangan teknologi internet, agar dalam kemajuan Pertanian diharapkan dapat memudahkan para penggiat Bidang pertanian dalam bekerja, dan bekerja pada bidang ini pun menjadi tidak membosankan, bahkan diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda dalam bertani sehingga tidak ada lagi kata gengsi untuk turun ke sawah dan ke ladang pertanian. Sebab Pertanian menjadi salah satu aset Negara yang sangat berharga terutama untuk masa depan Bangsa

(Baca juga : Ruby On Rails dan Perusahaan Teknologi di Bandung )

Seperti yang dilansir dan telah dirangkum dari liputan6.com, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan startup yang cukup masif. Pada tahun 2016 saja, perkembangan startup diramaikan di bidang sektor e-Commerce dan juga FinTech (Financial Technology).  Lalu diharapkan pada tahun 2017, perkembangan startup dapat juga memberikan inovasi pada Bidang lainnya, seperti halnya Bidang pertanian.

Project Manager The NextDec Telkomsel mengatakan yang intinya

“Di tahun 2017, tren startup yang ada di Indonesia akan bergerak kepada bidang agrikultur. Banyak kehadiran startup dari anak bangsa dengan konsep agriculture tech (dengan tujuan tentu saja) untuk memangkas kemelut yang menggurita di aktivitas supply chain (pada bidang) pertanian lokal (Indonesia),” (Steve Saerang, Project Manager The NextDev Telkomsel pada waktu mengisi sesi diskusi Startup Ngabuburit yang diselenggarakan di FX Jakarta, pada Senin 5 Juni 2017).

Kita sendiri mengharapkan bahwa sektor bidang Pertanian dan juga Perkebunan yang ada di Indonesia didukung Teknologi yang canggih, agar dapat menggebrak dunia startup di Bidang agriculture dan dapat membangkitkan bidang Pertanian dan perkebunan tersebut.

Salah satu StartUp di Bidang Agriculture adalah:

A. Habibi Garden.
Merupakan startup dari The NextDev, yang bergerak pada bidang agrikultur. Dengan Misi yaitu membawa Internet of Things (IoT) pertanian presisi dengan tujuan dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya serta meminimalisasi kemungkinan gagal tanam (di Negara Indonesia).

2. Pengaplikasian Drone pada Pertanian

(Drone, picture by pixabay)

Tekhnologi di bidang pertanian memang sangat perlu ditingkatkan, seperti halnya di daerah Purbalingga, Daerah ini sudah melakukan ujicoba pemupukan memakai drone

Seperti dilansir dan dirangkum dari liputan6.com, bahwa drone sudah mulai dikembangkan pada bidang pertanian. Di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah sudah mengaplikasikan teknologi drone ini untuk melakukan pemupukan pada areal persawahan melalui udara (dengan drone, pesawat kecil tanpa awak).

Bugiakso, cucu menantu Jenderal Soedirman,  Ketua Yayasan Panglima Besar Jenderal Soedirman, mengatakan:

“Penggunaan drone untuk pertanian berkelanjutan ini termasuk yang pertama di Indonesia, dan (Daerah) Purbalingga menjadi salah satu lokasi uji coba kami,” kata beliau, saat peluncuran teknologi drone untuk pertanian berkelanjutan di Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, pada Senin, 22/05/2017 yang lalu.

Adanya Kegiatan tersebut merupakan hasil dari kerja bersama oleh Yayasan Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan PT Bumi Maringi Mukti sebagai produsen pupuk organik cair yang diaplikasikan dan Look Heed Wuhan Research Institute Co.Ltd, Hubei, China sebagai penyedia teknologi drone tersebut.

Pemupukan dengan ujiccoba memakai drone tersebut dilakukan di areal tanaman padi yang berumur sekitar 35 hari pada lahan seluas 23,5 ha, terletak di areal sawah Kelompok Tani Mulyo, Desa Limbasari. Lalu Varietas yang ditanam adalah varietas unggul lokal Tegal Gondo serta jenis pupuk, berupa pupuk yang berbahan dasar material vulkanis Gunung Merapi, yaitu Pupuk cair biomineral organik ‘Jenderalium’.

Yang berhadir dalam acara tersebut yaitu Staf Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Brigjen TNI Affifudin,  lalu Co-founder of Lookhed (Wuhan) UAV Research Institute Co.Ltd Wang Ke Zhen, kemudia Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Purbalingga Sigit Subroto, serta Lily Purwati,Kepala Dinas Pertanian.

Menurut Bugiakso, pemilihan pupuk organik cair bertujuan untuk efisiensi serta efektifitas pemupukan dan ramah lingkungan. Pupuk dengan merek dagang Jenderalium tersebut memang sudah mendapatkan izin Kementerian Pertanian dan sudah diuji coba oleh pusat Riset Jenderalium Research and Botanical Garden yang ada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

Beliau juga mengatakan bahwa “Kandungan mikroba yang baik untuk pembenahan tanah lengkap, ukuran partikelnya juga nano mikron, sehingga dapat terserap secara baik oleh tanaman dengan melalui penyemprotan”.

Kemudian Berdasarkan hasil uji coba, pada areal persawahan seluas 1 hektar tersebut, hanya membutuhkan durasi waktu 16 menit yang dibutuhkan untuk menyemprot pupuk dengan memakai teknologi drone tersebut. Adapun Biaya pemupukan per hektarnya dengan memakai pupuk cair yang ditebar dengan drone yaitu sebesar Rp 1,4 juta rupiah.

Angka ini pun diklaim jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan pupuk padat yang dilakukan secara manual. Yayasan Jenderal Soedirman ini mengklaim bawaha sudah melakukan riset tersebut sejak tahun 2008 dan terbukti efektif dalam penerapannya. Pupuk Jenderalium pun sudah diaplikasikan pada tanaman jagung, umbi-umbian, padi,  hortikultura buah maupun sayur, serta tanaman keras tahunan.

Sigit Subroto, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Purbalingga,  mengatakan bahwa teknologi serta inovasi pada bidang pertanian mutlak diperlukan untuk meningkatkan produksi serta produktivitas pertanian.

Diharapkan, Petani tidak akan semakin tertinggal dengan mengenal teknologi pertanian yang semakin berkembang

Sigit juga mengatakan yang intinya: “Areal pertanian yang ada di Pulau Jawa tidak mungkin bertambah, bahkan juga cenderung akan berkurang. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi (Pertanian), salahs satu yang dibutuhkan adalah aplikasi teknologi”.

Lalu, Wang Ke Zhen mengatakan “Kekurangan tenaga kerja merupakan masalah di semua negara, teknologi ini menjadi salah satu solusinya,” ujarnya.
Wang Ke Zhen juga menambahkan, Di Provinsi Hubei, China, teknologi itu sudah dimanfaatkan dan berhasil meningkatkan produksi padi, dan juga teknologi pemupukan dengan menggunakan drone ini akan lebih efisien, baik dalam hal biaya, dan teknis di lapangan serta dari segi waktu.

(Agriculture, picture by pixabay)

3. Keinginan Pemerintah Indonesia pada bidang Pertanian

Kedua hal yang telah disebutkan di atas juga senada dengan apa yang diharapkan Presiden Jokowi, seperti yang dilansir dan telah dirangkum dari liputan6. com,  yaitu Presiden Jokowi Ingin Sektor Pertanian Dikembangkan dengan Cara yang Modern, agar paradigma pada pengembangan sektor pertanian ini diubah dari tadinya budidaya menjadi agrobisnis. Dengan menjadikan sektor pertanian ini sebagai sebuah bisnis, maka juga akan membuat petani lebih sejahtera tentunya.

Seperti yang dilansir dan dirangkum dari liputan6.com, bawah Presiden Jokowi menngatakan:

“Dan kalau kita lihat sekian tahun ke belakang, kita selalu berkutat pada onfarm-nya, selalu berkutat pada sektor budidayanya. Kita lupa bahwa petani akan mendapatkan keuntungan yang besar itu sebetulnya dari proses bisnisnya, dari proses agrobisnisnya. Bukan karena di onfarm-nya, bukan karena di sektor budidayanya,” ujar dia di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (12/9/2017).

Dengan menerapkan paradigma agrobisnis, petani diharakan memiliki sendiri industri benih, dan memiliki aplikasi-aplikasi produksi yang sudah modern, serta memiliki juga penggilingan penggilingan modern.


4. Bidang Pertanian juga diyakini menjadi Penggerak Ekonomi di Republik Indonesia

Bidang Pertanian Diminati Orang Kaya, dan diharapkan menjadi Penggerak Ekonomi Republik Indonesia

Sektor Pertanian dinilai dapat menjadi sektor yang dapat berkontribusi paling besar pada pertumbuhan ekonomi yang ada Indonesia. Sebab, sektor Pertanian diketahui mampu menyerap hingga ratusan juta tenaga kerja pada bidang ini.

Seperti dilansir dan dirangkun dari liputan6.com,

Hari Priyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan):

“Dalam kurun waktu perjalanan Indonesia, kita alami situasi krisis dan kritis. Saat sektor lain tumbuh negatif, pertanian selalu tumbuh positif. Tapi dari pengalaman kita, belum bisa yakinkan bahwa pertanian penggerak ekonomi nasional. Kita masih bertumpu pada sektor lain untuk tumbuhkan ekonomi,” kata beliau, di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin, 17 Juli 2017.

Pihaknya yakin, jika ke depannya (Bidang) Pertanian dapat menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional (Republik Indonesia). Sebab, hingga saat ini pertanian mampu menyerap 100 juta tenaga kerja (di bidang Pertanian).

Hari Priyoni juga menjelaskan bahwa “Kita harus yakin pertanian bisa jadi tumpuan penggerak ekonomi. Orang-orang kaya mana (di Indonesia) yang tidak punya bisnis di sektor pertanian. Di sisi lain, ada sekitar 100 juta jiwa masyarakat Indonesia pada sektor ini. Meski sektor yang seolah termarjinalkan, tetapi petani kita kuat. Mereka tidak sekolah, tapi bisa siapkan pangan bagi Indonesia”.

Petani di Indonesia mampu mengungguli Petani luar negeri, seperti Thailand, dalam hal produksi padi. Saat ini, Thailand saja masih sekitar 3-4 ton per hektare. Sedangkan rata-rata produksi padi di Indonesia mencapai 5,5 ton per hektare.

(Junipedia)


 

Referensi Sumber:
Google, tekno.liputan6.com/read/2979316/bidang-pertanian-bakal-dominasi-tren-startup-indonesia-2017, regional.liputan6.com/read/2961149/canggih-purbalingga-uji-coba-pemupukan-padi-pakai-drone, bisnis.liputan6.com/read/3091763/jokowi-ingin-sektor-pertanian-dikembangkan-dengan-cara-modern,
bisnis.liputan6.com/read/3025317/diminati-orang-kaya-pertanian-diyakini-jadi-penggerak-ekonomi-ri

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *