Yuni Rizani, S.I.Kom 27 Juli 2018

Tata cara Shalat gerhana bulan dan tahapan Gerhana Bulan Total Super Blue Blood Moon

 

Tahapan Gerhana Bulan Total Super Blue Blood Moon Fenomena Langka diprediksi 31 Januari 2018
(Ilustrasi Gerhana Bulan)

Gerhana bulan total (super blue blood moon) berlangsung pada 31 Januari 2018, dan malam ini Gerhana Bulan total diprediksi akan kembali terjadi. Namun gerhana bulan malam / dinihari 28 Juli 2018 disebut Gerhana Bulan total Blood Moon, yang artinya bulan berada pada titik apogee, yaitu titik terjauh dari orbitnya yaitu bumi.

Gerhan bulan adalah salah satu dari Beragam Fenomena Alam yang terjadi di awal tahun dan tengah tahun 2018, salah satunya adalah Fenomena Alam yang Langka berupa Gerhana Bulan Total atau disebut juga Super Blue Blood Moon. Gerhana Bulan Total terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 (14 Jumadil Ula 1439 H).

Hal ini diprediksi terjadi di Indonesia dan juga Sejumlah Negara lainnya. Dan malam 28 Juli 2018 gerhana bulan total Blood moon, diprediksi kembali terjadi

Gerhana Bulan Total pada Rabu 31 Januari 2018, disebut sebagai Fenomena Langka, sebab pada saat Gerhana Bulan Total terjadi, Bulan berada pada Konfigurasi antara Supermoon dan Bluemoon
Disebut Fenomena langka alasannya adalah seperti yang diketahui terjadi pada tahun 1866 (31 Maret 1866), Lebih dari 100 tahun yang lalu, dan kali ini diprediksi akan terjadi kembali Gerhana Bulan Total Super Blue Blood Moon Fenomena Langka tersebut Pada Hari Rabu, 31 Januari 2018
Bluemoon merupakan Bulan Purnama yang dapat terjadi 2 kali dalam hitungan Kalender 1 Bulan.
Supermoon adalah fenomena pada waktu Bulan Purnama berada dalam jarak terdekat dengan planet Bumi. Hal ini yang menyebabkan Cahaya Bulan  30%  menjadi lebih terang dibanding biasanya, dan Ukuran Bulan pun 14 persen menjadi lebih besar dari biasa.

Urutan Gerhana Bulan Total Super Blue Blood Moon Fenomena Langka (pada 31 Januari 2018) terjadi dengan urutan kejadian :

1. Gerhana Sebagian, kemudian:
2. Gerhana Total
3. Gerhana Parsial, lalu
4. Bulan akan sepenuhnya terlepas dari bayangan planet Bumi

Berikut beberapa Keajaiban Fenomena Alam Langka Gerhana Bulan Total (Super Blue Blood Moon) pada Rabu 31 Januari 2018:

(Dirangkum dan dikutip dari news,liputan6,com yang melansir dari Page LAPAN)
1. Bulan berada dekat dengan Planet Bumi
2. Merupakan Gabungan dari 3 Fenomena alam secara bersamaan
Yaitu yang disebutkan tadi, yaitu Fenomena Gerhana Bulan, Supermoon, dan Bluemoon yang terjadi secara berbarengan
3. Planet Bumi akan Menutupi Bulan
Bayangan dari Planet Bumi akan menutupi Bulan pada saat Gerhana Bulan total tersebut terjadi, Jarak antara Bulan dan planet Bumi selalu berubah, disebabkan adanya Orbit bulan yang mengelilingi Bumi membentuk Elips. Lalu ketika Bulan berada di titik terdekatnya dengan planet Bumi pada saat terjadi Bulan Purnama, disitu terjadi Fenomena Supermoon
4. Diprediksi Berlangsung selama kurang lebih 4 jam
Berlangsung 4 jam, sebab terjadi dengan beberapa Urutan seperti yang telah disebutkan di atas yaitu: Gerhana Sebagian, kemudian Gerhana Total,Gerhana Parsial, lalu Bulan akan sepenuhnya terlepas dari bayangan planet Bumi

Tahapan Gerhana Bulan Total Super Blue Blood Moon Fenomena Langka pada 31 Januari 2018 dari Waktu Indonesia Barat (WIB) yaitu:

1. 31 Januari 2018, Rabu, pukul 18:48 Wib Gerhana Parsial Awal
2. 31 Januari 2018, Rabu, pukul 19:52 Wib Gerhana Total Awal
3. 31 Januari 2018, Rabu, pukul 20:30 Wib Terjadi Puncak Gerhana Bulan
4. 31 Januari 2018, Rabu, pukul 21:08 Wib Akhir Totalitas Fenomena
5. 31 Januari 2018, Rabu, pukul 22:11 Wib Gerhana Parsial yang merupakan Akhir Gerhana
Untuk ummat Muslim dianjurkan Sholat Gerhana Bulan (Shalat Sunnat Gerhana Bulan atau shalat Khusuf) pada tanggal tersebut atau Rabu malam Kamis, Shalat Gerhana Bulan secara berjamaah.*

Sholat Gerhana Bulan ini disebut juga dengan Shalat Khusuf, dianjurkan juga untuk Istighfar, Dzikir, Sedekah dan Ibadah Baik lainnya.

Di Mesjid Istiqlal, Jakarta, pun dikabarkan menggelar Shalat Gerhana Bulan (Shalat Khusuf) ini secara berjamaan pada 31 Januari 2018 nanti, dan dilakukan Shalat Khusuf ini setelah Shalat Isya.

Setelah Sholat Gerhana Bulan (Shalat Khusuf) jangan lewatkan Momen dari fenomena langka Gerhana Bulan Total Besok hari ya.. Bisa dilihat dengan mata ‘telanjng’ dan juga dengan alat, semoga saja harinya cerah untuk dapat lebih leluasa mengamati fenomena Gerhana bulan total besok ini.

Urutan dan Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Shalat Gerhana Bulan secara Umumnya :

1. Di awali dengan Shalat Sunnat 2 rakaat
2. Dilanjutkan dengan 2 Khutbah oleh Khatib seperti Shalat Ied
(Namun pada saat 2 Khutbah, tidak dianjurkan Takbir seperti Takbir Khutbah Shalat Ied)
3. Setiap Rakaat dengan 2 kali Rukuk

Penting:
Jika masih belum faham dan mengerti, sebaiknya langsung ditanyakan pada Ulama atau Ustadz terpercaya agar tidak salah dalam menerapkan tata Cara shalat, termasuk tata cara shalat Gerhana Bulan (Total) ini.

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan:

1. LAFADZ NIAT Sholat Gerhana Bulan

(Lafadz Niat Dibaca dengan mulut sebelum Takbiratul Ikram)

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Bahasa Latin:

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

2. NIAT Ketika Takbiratul Ikram (Setelah Lafadz Niat),

Niat dibaca di dalam Hati ketika Takbiratul Ikram Mengucap Takbir

“Saya Shalat Sunnah Gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum Karena Allah SWT.”

3. Rakaat Pertama

Baca Bacaan Taawudz
Lalu Surah Al-Fatihah (Surah Al-Fatihah adalah Surah yang Wajib dibaca ketika Shalat)
Kemudan Baca Surah Al-Baqarah dengan lantang (Atau surah yang dibaca durasinya sama lama dengan Surah Al-Baqarah)

4.. Rukuk
Membaca Tasbih, (durasi lama) seperti lama membaca 100 Ayat surah Al-Baqarah

5. I’tidal
Ketika I’tidal, bukan membaca Do’a I’tidal seperti shalat lainnya, namun Baca:
Surah Al-Fatihah, dilanjurkan Surah Ali Imran (Atau Surah yang sama durasi lama waktu membacanya)

6. Rukuk (lagi)
Membaca Tasbih, (durasi lama) seperti lama membaca 80 Ayat Surah Al-Baqarah

7. I’tidal (lagi)
Baca Do’a I’tidal seperti shalat biasanya

8. Sujud Pertama
Membaca Tasbih seperti lama membaca tasbih pada Rukuk Pertama

9. Duduk diantara Dua Sujud

10. Sujud Kedua
Membaca Tasbih seperti lama membaca tasbih pada Rukuk Kedua

11. Lalu Duduk sejenak sebelum bangkit ke Rakaat Kedua
Duduk sejenak ini sama halnya pada saat ingin mengganti gerakan shalat biasanya yaitu dengan melakukan Tuma’ninah (salah satu Rukun Shalat) agar salah satu mencapat kesempurnaan dan kekhusyuan shalat (shalat tidak terburu-buru)
misanya ketika selesai membaca surah sunnat setelah Al-fatihah dan melanjutkan rukuk, diantara gerakan itu (sebelum rukuk) berhenti sejenak seukuran waktu membaca “Subhanallah”, jadi tidak langsung rukuk ketika selesai membaca surah pada Rakaat Shalat

12. Bangkit dari Sujud dan setelah duduk sejenak (tuma’ninah)

13. Rakaat Kedua

Pada Rakaat Kedua ini, lakukan yang sama seperti Rakaat Pertama
Bedanya:
Rakaat Kedua (berdiri pertama di rakaat kedua Setelah membaca Surah Wajib Al-Fatihah dianjurkan membaca Surah An-Nisa
Rakaat Kedua (berdiri kedua di rakaat kedua Setelah membaca Surah Wajib Al-Fatihah  dianjurkan untuk membaca Surah Al-Maidah)
14. Setelah itu kerjakan Seperti urutan setelah rakaat pertama hanya saja ada perbedaan waktu (durasi lama bacaan), kerjakan urutan shalat sampai Duduk Tahiyah Akhir
15. Salam
 
(Tata cara Shalat Gerhana Bulan dilansir dan dirangkum dari 
Referensi lainnya:
 
CATATAN:
Disunnahkan memanjangkan (durasi) Ruku’ dan ketika sujud, dengan bertasbih kepada Allah S.W.T, ketika 2 ruku’ dan sujud pada rakaat pertama dan ketika 2 ruku’ dan sujud Rakaat kedua.
Jika saja dikadarkan ukuran bacaan ayat Al-Quran, dapat dibandingkan seperti membaca 100, 80, dan 70 serta 50 ayat Surat Al-Baqarah.
Rakaat Pertama: Ukuran (durasi) Panjang waktu ketika Rukuk (Ruku’) dan Sujud pertama di Rakaat pertama sekitar 100 ayat surat Al-Baqarah,
Dan ketika Rukuk dan sujud kedua Rakaat pertama Sekitar 80 ayat surat Al-Baqarah.
Rakaat Kedua: Sekitar 70 ayat untuk rukuk serta sujud pertama di Rakaat kedua. Lalu sujud dan rukuk terakhir seperti 50 ayat.
Dalilnya merupakan dari hadit’s Shahih, yang mana keshahihannya sudah disepakati oleh Para ulama hadit’s.
كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل
Dari Ibnu Abbas R.a, berkata:
“Terjadi gerhana matahari, dan Rasulullah S.A.W melakukan Sholat Gerhana. Beliau berdiri  sangat panjang, sekira membaca surat Al-Baqarah.
Kemudian Beliau Ruku’ sangat panjang, lalu berdiri lagi dengan sangat panjang, namun sedikit lebih pendek dari yang pertama.
Lalu Ruku’ lagi, tapi sedikit lebih pendek dari Ruku’ yang pertama.
Kemudian Beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian Ruku’ panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya. (HR. Bukhari & Muslim).
Wallahu a’lam Bishshawab, 
(Catatan: Dilansir dan dirangkum dari rumah fiqh
 

*Tentang Tuma”ninah

“Kalau kamu berdiri ketika Shalat, maka berdirilah degan Tuma’ninah. Kalau kamu Ruku’. Ruku’lah dengan Tuma’ninat,… Kemudian berbuatlah demikian dalam setiap Shalatmu” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad dari Abu Hurairah)
(Sumber: definisimenurutparaahli. com)

 

(Terdapat Perbedaan Pendapat untuk Melakukan Shalat Gerhana Bulan ini, berbeda dengan Gerhana Matahari,
silahkan baca di sini sebagai referensi 
Dan sebaiknya juga bertanya pada Ustadz atau Ulama terpercaya)



Silahkan kritikan dan saran jika terdapat kesalahan dalam penulisan teori dan fakta yang ada, media ini saran informasi, tidak menggantikan teori dan fakta dari para ahli di bidangnya.

Sumber referensi : 
Media Televisi,
Internet: News liputan6
picture by Pixabay

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*